The Rays of Avera Ch.5

|
The Rays of Avera
Created by Shaven

CHAPTER FIVE

When The Going Gets Rough…




Lukisan kehancuran yang dahsyat terpampang jelas di hadapan ketiga tokoh utama kita yang saat ini sedang berdiri di depan pintu gua tambang. Sang Monster Hunter - Rover Ray seakan tak kuasa menahan ibanya menyaksikan banyak korban yang jatuh. Putra semata wayang Rover, Mark Ray, hampir-hampir tak percaya melihat kehancuran kota yang baru beberapa saat yang lalu masih hidup dan gembira menyambut perayaan festival rembulan. Lady Maia Lasalle, sang spellcaster muda meneteskan air matanya karena sedih. Penulis pun seakan tak kuasa menahan haru, bukan karena mellihat kehancuran Carmelion, tapi karena jempol kakinya kesemutan saking lamanya ngetik di depan komputer.

“Ti-tidak mungkin…!” Mark menggelengkan kepalanya dengan takjub dan tak habis pikir. “A-apa… si-siapa yang telah melakukan ini? Bagaimana mungkin kota ini bisa hancur? Apa yang telah terjadi?”
“Padahal kita hanya pergi beberapa saat saja… oh… penduduk Carmelion yang malang, apa yang telah terjadi di tempat ini?” Maia jatuh terduduk dengan pose feminin.

Tapi kehancuran yang ada di hadapan mereka memang sangat nyata dan serius, sangat mengerikan dan membuat air mata meleleh. Untunglah tim khusus dari penulis cerita ini sudah mempersiapkan ember untuk menampung semua air mata yang tumpah.

Puing-puing nampak berhamburan disana-sini, reruntuhan yang hangus terbakar disertai bau amis mayat membuat bulu kuduk berdiri. Satu dua orang nampak masih kesakitan meregang nyawa disela-sela kehancuran. Banyak orang yang kehilangan harta benda, kehilangan anggota badan dan kehilangan anggota keluarga. Penulis dengan penuh iba juga ikut membantu sekedarnya, memberi pertolongan pada yang membutuhkan dengan tulus ikhlas, memang sungguh seorang penulis yang baik budi, tidak sombong dan hormat pada orang tua seperti layaknya seorang pemuda yang telah ditempa oleh pendidikan budi pekerti Praja Muda Karana.

“Celaka! Bangsawan Von Gard!!” teriak Rover tiba-tiba saat menyadari sesuatu, diapun jatuh tersungkur dengan lemas. “OH TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!!!”

Kastil sang bangsawan yang menyewa Rover dan Mark sudah lenyap tak berbekas, sebuah lubang besar menggantikan kastil itu. Seakan-akan ada satu tembakan dahsyat yang telah meluluhlantakkan seantero kota dan kastil sang bangsawan adalah sasaran utamanya. Gunung batu di sekeliling kastil nampak kontras dengan lubang besar yang menganga. Lokasi itu sekarang lebih mirip seperti kue donat daripada sebuah kastil.

“BAYARANKUUUU!!!” teriak Rover lagi. Pria itu pun melolong pedih.
“DODOL!!” Mark mengamuk. “Ayah punya perasaan gak sih? Carmelion sedang kena musibah, eh malah duit aja yang dipikirin!”
“Ta-tapi… hiks… du-duitnya… oh… aku gagal jadi orang kaya… huwaaaaa… padahal rencananya aku pengen berlibur ke pantai… huwaaaaa…”

“Maia?” Cuek dengan kelakuan sang ayah yang tidak tahu malu, perlahan Mark mendekati Maia yang juga nampak sangat terpukul melihat kehancuran Carmelion. “Kamu baik-baik saja?”

“A-aku akan memberi pertolongan sebisa mungkin, tidak banyak membantu memang, apalagi hampir seluruh kota hancur dan banyak orang terluka, tapi aku harus melakukannya. Entah apa aku masih kuat merapal magic heal-ku untuk orang sebanyak ini…” Maia bangkit dan bergegas menyiapkan diri. “Kalian berdua bisa membantu kan? Tuan Rover bisa mencari tempat yang aman untuk penampungan para korban, sementara kita mengumpulkan mereka.”

“Bisa.” Rover mengangguk, air mata kepedihan terus menuruni pipinya. Buset dah, bentuknya serem tapi cengengnya ampun-ampunan.

Ketiga jagoan kita pun bergegas layaknya tokoh yang baik dan berbudi luhur. Rover menemukan sebuah rumah besar yang kondisinya lebih layak pakai dibanding lokasi lain. Tempat itu segera digunakan sebagai tempat penampungan korban bencana Carmelion. Setelah mempersiapkan lokasi sebisa mungkin, Maia dan Mark mengumpulkan korban. Untunglah penduduk Carmelion yang menjadi korban bencana namun masih sehat ikut membantu mengumpulkan korban, mengumpulkan obat-obatan dan sisa-sisa makanan yang ada.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Malamnya, setelah bekerja seharian, Rover, Mark dan Maia pun beristirahat. Pencarian korban masih dilakukan oleh penduduk Carmelion. Beberapa orang Carmelion membuat api unggun untuk menghangatkan badan dan memasak. Rover, Mark dan Maia turut duduk bersama mereka.

“Huuwaaahhh… sial. Siapa sih yang sudah iseng menghancurkan Carmelion?” Rover menggerutu. “Badanku capek semua. Kasihan orang-orang ini, mereka kehilangan rumah dan mata pencaharian. Dasar biadab.”
“…” Maia hanya terdiam.
“Aku juga gak bisa ngomong apa-apa lagi. Kalau tau pelakunya… huh! Bakal aku injek-injek sampai gepeng!” Mark menambahi.

“Semua karena ulah para naga.”

Rover, Mark dan Maia menengok dengan berbarengan, persis kayak penonton pertandingan tenis. Di dekat mereka, berdiri seorang lelaki tua bungkuk dengan tongkat kayu dan wajah letih sedang berdiri bersandar di dekat tembok puing bangunan sambil membawa segelas minuman hangat. Janggutnya yang putih dan panjang hampir mencapai tanah nampak serawutan, seperti jarang disisir. Kalo muncul deket pohon jengkol, bisa dikira penunggu pohon jengkol.

“Err… kalau boleh kami tahu, siapa anda, Pak?” tanya Rover sopan. Tumben.

“Sepertinya namaku tidak penting, toh aku cuma NPC saja. Aku hanya akan muncul di chapter ini dan tidak akan muncul lagi kelak. Seorang pujangga pernah menuliskan: Apalah arti sebuah nama, karena kalo manusia sudah kentut, baunya tetap kemana-mana.” kata bapak tua dengan filosofi yang sangat jorok itu. “Tapi kalau kalian mau, kalian bisa panggil aku Tommy.”

“Tommy? Kakek-kakek kok panggilannya Tommy? ABG banget?” protes Mark.
“Lengkapnya Tommy Cruise.” Kata kakek itu. “Tapi kalo mau manggil Michael, Kevin atau Jason, kakek juga kadang-kadang nengok.”

Mark, Rover dan Maia bengong sesaat. Duile, ini kakek genit amat.

“Oke-oke, kembali ke masalah naga tadi. Bapak.” Rover mengembalikan percakapan yang nampaknya sudah mulai OOT. “Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini? Ada apa dengan para naga?”

“Carmelion sedang merayakan festival rembulan, ketika tiba-tiba para naga itu datang entah dari mana. Tidak hanya satu atau dua naga, tapi banyak sekali. Mereka menyerang dari udara, muncul dari dalam tanah dan menghancurkan bangunan. Naga-naga mengamuk dan menghancurkan Carmelion.” Sang Kakek duduk di kursi kayu pendek agar lebih enak bercerita. “Tanpa bisa dihadang siapapun, api menjalar kemana-mana, monster-monster kecil bermunculan dan mulai membunuh para penduduk. Korban berjatuhan, keadaan sangat rusuh, seluruh penduduk Carmelion dibantai. ‘The Carmelion Massacre’.”

“Aku masih bingung, kenapa para naga itu mengamuk? Kenapa mereka melakukan kekacauan? Kenapa mereka menyerang manusia?” Maia bertanya-tanya. “Memangnya kita salah apa? Ketemu mereka aja kan jarang.”

“Sepertinya ada yang memanggil mereka.” kata si orang tua yang ternyata banyak mengetahui latar belakang bencana di Carmelion itu.

“A-ada yang memanggil?” Mark dan Rover membelalakkan mata tak percaya.

“Iya. Prosesnya sedikit mirip dengan summoning yang biasa dilakukan oleh High Spellcaster, High Wizard atau kaum High Mage lain. Sebelum semuanya ini terjadi, seseorang berdiri di atas batu-batu besar yang berada di belakang kastil Sebastian Von Gard. Lalu cahaya-cahaya melingkari tubuhnya dan perlahan naga-naga itu bermunculan, saat muncul, mereka langsung mengamuk.” lanjut sang kakek.

“Lho, kakek kok bisa tahu ada orang yang berdiri di belakang kastil Von Gard?” Maia keheranan. “Jarak dari sini ke sana kan cukup jauh?”
“Jangan-jangan dapat bocoran dari Mister Nolej?” Rover menambahkan informasi namun kurang bermutu.

“Bukan begitu, kakek mendengar ini juga dari mulut ke mulut. Walaupun kena bencana, gosip jalan terus, namanya juga infotainment.” Kata sang kakek menerangkan. “Kata orang, pakaian yang dikenakan orang itu mirip seorang summoner.”

“Summoner? Yang suka bikin daging bakar ditusuk-tusuk?” tanya Rover.
“Itu tukang sate! Jauh amat!” maki Mark.

“Pantas saja naga-naga itu menggali tanah menembus gua tambang milik Von Gard. Mereka bukannya marah karena rumah mereka terusik, tapi mereka memang sedang berusaha naik ke permukaan karena dipanggil seseorang.” Kata Maia. “Kenapa seorang summoner memanggil para naga itu? Wah, masalahnya mulai rumit… kira-kira apa yang sedang direncanakannya yah?”

“Kalau pengen tahu soal masalah itu, mungkin ada baiknya kita pergi ke House of Summoner di Qysada.” Kata Rover dengan wajah serius. “Kalau memang benar ada summoner yang ngawur memanggil naga-naga itu untuk mengamuk di Avera, kita harus menanyakan langsung pada yang bersangkutan.”

Mark mengangguk. “Benar sekali. Tumben otak Ayah encer.”
Rover melengos. “Anak lutung, kayak gak tau aja kalo Ayahnya seorang pria cerdas, berkepribadian menarik sekaligus memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas.”
“Puih! Pria cerdas katanya. Masak air aja gosong!”
“Apanya gosong! Tapi kan masih mending! Daripada kamu sikat gigi pake sabun!”
“Itu kan waktu masih kecil! Gak bisa bedain odol sama sabun cair!”
“Dari sananya emang udah bloon.”
“Dasar tetua lutung!”
“Dasar anak lutung!”

Maia dan sang kakek hanya bisa geleng-geleng dan menundukkan kepala penuh haru melihat perdebatan dua manusia lutung itu.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Esoknya.

Mark dan Rover bersiap-siap dengan barang bawaan mereka. Maia yang tadinya masih membantu beberapa korban segera menghampiri pasangan ayah-anak yang kadang kompak kadang main lutung-lutungan itu.

“Kalian mau pergi?” tanya gadis itu.

“Kami punya misi baru.” Jawab Mark tersenyum. Dalam hatinya dia sedih karena akan meninggalkan Maia, oh seandainya saja Maia bisa ikut bersama mereka tentu Mark akan merasa sangat bahagia. Sayang sekali setelah menuntaskan tugas di Carmelion, Maia tentunya akan kembali ke Magestro, dimana pusat Sisterhood of Spellcaster berada.

“Semua jawaban bisa didapat di Kota Qysada.” Kata Rover. “Walaupun untuk misi kali ini kami tidak akan mendapat bayaran, tapi aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi! Siapa summoner yang telah memanggil para naga dan kenapa dia seenak bodongnya menghancurkan Carmelion. Kami akan meminta pertanggungjawaban! Aku juga mau minta ganti rugi liburan ke pantai! Bersiaplah Mark! Kita ke Qysada!”

“Baik Ayah!” Mark mengangguk keheranan. Waduh hebat, tumben amat ayahnya nan sableng itu mau pergi bertualang tanpa biaya. Sungguh mencurigakan.

“Err… bolehkah aku ikut dengan kalian?”

Mark dan Rover menengok berbarengan, persis kayak penonton pertandingan tenis. (Error 616!! Perhatian-perhatian!! Dagelan tidak lucu ini sudah dipakai dua kali di satu chapter!! Pertanda otak penulis mulai gosong!! Error 616! Error 616!).

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Jreng-jreng-jreng!!!
Permisi sodara-sodara!!!
Saya adalah Mister Nolej, si super tahu segalanya yang terjadi dunia Avera! Saking super tahu segalanya, saya tidak kalah hebat dari Dora The Explorer!

Untuk edisi kali ini, saya akan menerangkan tentang Error 616 dan Summoner.

Apa itu Error 616?
Error 616 adalah error yang terjadi karena kegosongan di otak sang penulis akibat overload. Krisis ide dan kebanyakan main game Playboy Mansion biasanya mengakibatkan error ini. Walaupun yang disebutkan terakhir akan menimbulkan juga kegosongan yang timbul di wilayah lain. >ehem!<. Karena error ini, biasanya penulis akan menulis dagelan dua kali di satu chapter, ini sangat fatal karena menunjukkan penulis mulai kehabisan ide.

Seandainya terjadi Error 616, diharapkan pembaca bersedia memberikan pertolongan yang sangat dibutuhkan penulis. Saat ini penulis sedang melalui terapi khusus dan serius untuk menyembuhkan diri dari Error 616. Demikian harap menjadikan periksa.

Apa itu Summoner? Apa pula itu House of Summoner?

Kalau gampangannya, Summoner adalah ‘pemanggil’. Di Therain, terutama Avera, banyak sekali makhluk-makhluk gaib dan ajaib yang berkeliaran. Naga adalah salah satu makhluk yang diagungkan. Dari semua mage yang ada di Therain, Summoner-lah yang memiliki kemampuan memanggil makhluk-makhluk gaib dan ajaib, sekaligus mampu mengundang Ion-Beast (soal Ion-Beast akan diceritakan di lain bab).

House of Summoner adalah pusat dari semua kegiatan pelatihan dan pengembangan sekaligus rumah agung para Summoner. Lokasinya berada di Qysada, cukup jauh ditempuh dari Carmelion.

Begitulah keterangan dari saya… mudah-mudahan bisa membantu!
Jreng-jreng-jreng!!!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Maia?” Mark berdegup-degup jantungnya. Aduh senangnya kalo Maia mau ikut mereka. Dia tidak akan sendirian lagi dengan sang ayah. Segala kejayusan Rover bisa dinetralisir dengan kenormalan Maia. Aduh, senangnya hatiku, hilang panas demamku, semua karena Maia, oh Maia. “Maia mau ikut ke Qysada?”

“Kamu yakin, Maia? Perjalanan melewati Carmoby lumayan berat.” Rover menimpali dengan wajah serius.
“Ti-tidak apa-apa. Aku masih seorang rookie. Untuk bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi, aku harus banyak berlatih. Mungkin perjalanan ini bisa membantu meningkatkan kemampuanku.” Kata Maia.
“Belum lagi banyaknya monster dan bandit padang pasir.” Rover tetap bertahan.
“A-aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Masih ada beberapa kota dan wilayah yang harus dilewati sebelum sampai ke Qysada. Disana nanti bisa muncul banyak masalah.”
“A-aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Lho? Jawabannya kok sama? Kamu kok tidak kreatif?”
“Lha mau jawab gimana lagi?”

Hihihi. Jangan-jangan si Maia kena Error 616 juga yah?

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sebagaimana yang bisa ditebak oleh anak SD sekalipun, Maia akhirnya menggabungkan diri dengan Rover dan Mark setelah berpamitan dengan para penduduk Carmelion yang sangat berterima kasih atas bantuan mereka. Mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan kota Carmelion yang sudah hancur menjadi puing-puing dan menembus gurun pasir Carmoby yang penuh marabahaya. Jelas sekali, petualangan baru dan berat menanti ketiga pahlawan kita.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah benar penulis sudah sangat capek dengan ulah Rover yang kadang malu-maluin, sehingga dia akan dimatikan di chapter berikutnya? Ataukah kontrak penampilan Rover dengan serial ini justru diperpanjang?
Bagaimanakah perkembangan hubungan antara Mark dan Maia? Apakah Maia akan mengikuti jejak Suster Maria dari film ‘Sound of Music’ yang menikah dengan Kapten Von Trapp dari Austria dan tujuh orang anaknya yang nakal namun sesungguhnya berhati lembut itu? Lantas, apa hubungannya serial ini dengan ‘Sound of Music’?
Apakah dengan adanya Error 616 artinya penulis masih mempunyai banyak ide atau benar-benar bingung cari ide?
Apakah penulis masih punya uang untuk pergi ke warnet dan berburu gambar hentai?
Apakah penulis masih ngiler kalau liat pose ‘menantang’ JAV Idol?
Apakah penulis masih terus mencoba menyusup channel #carding untuk mendapatkan nomor ilegal guna menembus situs porno paysite?
Apakah benar penulis mirip Primus Yustisio? Ataukah ternyata penulis lebih mirip dengan Ari Wibowo? (khusus pertanyaan ini jawabannya ada di Shaven’s Note)

Semuanya ada di edisi selanjutnya dari Rays of Avera!
Jangan sampai ketinggalan!


-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :

* Kenapa kok Error 616? Kenapa kok bukan 666? Kenapa kok bukan 081-80-279- sekian-sekian-sekian? Bagi yang hobi liat WWE tentunya tahu dengan highflyin’ cruiserweight wrestler yang codename-nya Rey Mysterio Jr. Rey ini punya jurus andalan yang diberi nama “616” dan keren sekali. Aku comot aja nomornya! Konon kata Mister Nolej nomor itu adalah nomor kode pos rumah si Rey.
* Ini kayanya gak penting, tapi ya udah, buat nambah-nambah… judul chapter ini aku plesetin dari judul lagunya Billy Ocean. Nama kota Qysada juga plesetan dari nama E-I-C Marvel Comics, Joe Quesada.
* Apakah penulis mirip Primus Yustisio atau lebih mirip dengan Ari Wibowo? Sungguh sebuah polemik yang berkepanjangan dan penuh perdebatan, karena biar bagaimanapun, dengan penampilan seperti Keanu Reeves, penulis menolak disamakan dengan dua bintang lokal tersebut.
BLEEDDAAAARRRRR!!! Penulis dibantai semua pembaca.
Hihihihi…